jump to navigation

Untukmu yang Berjiwa Hanif July 28, 2010

Posted by Rina Lubis-Stone in Renungan.
Tags:
trackback

 Sungguh hidayah menuju Islam yang hakiki merupakan kenikmatan yang terbesar dalam kehidupan manusia karena ia adalah kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat. Orang-orang terdahulu telah mengorbankan semua yang ada pada diri mereka untuk meraihnya. Jalan itu pula kiranya yang ditempuh oleh para nabi dan rasul dalam mendakwahkan kalimat tauhid untuk mengesakan Allah Swt.1. Hakikat Kehidupan

Tujuan Hidup

Setiap manusia sepakat dengan tujuan hidup, yaitu mencari dan menggapai kebahagiaan. Semua manusia ingin hidup bahagia, hanya saja kebanyakan manusia salah dalam mencari jalan kebahagiaan, banyak yang memilih sebuah jalan hidup yang ia sangka di sana ada pantai kebahagiaan padahal jurang kebinasaan. Banyak orang menyangka kebahagiaan itu ada pada harta. Karenanya, ia bersusah payah mencari sumber-sumber harta. Setelah ia memperoleh harta tersebut, hatinya tetap gundah dan perasaan selalu gelisah. Dalam harta yang banyak itu terdapat jiwa yang rapuh. Banyak pula yang menyangka bahwa pangkat dan kekuasaan itu adalah kebahagiaan, tetapi setelah pangkat dan kekuasaan diperoleh kebahagiaan semakin jauh darinya, yang terdengar hanya keluh kesahnya. Jadi, apa kebahagiaan yang sesungguhnya? Apa kebahagiaan sejati yang harus dicari oleh manusia? Siapa sebenarnya orang yang bahagia? Apa sarana untuk mencapainya?
Manusia diciptakan oleh Allah Swt. Tentu yang paling mengenal tentang seluk-beluk manusia, termasuk tentang sebab bahagia atau sengsara adalah Allah Swt, bukan manusia.

Allah Swt. berfirman:
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan)? Dan, Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Muluk: 14).

Ketika Al-Qur’an ditadaburi dan syariat Islam dikaji, maka kebahagiaan yang hakiki adalah mengaplikasikan penghambaan diri kepada Allah Swt. Orang yang bahagia adalah orang yang telah berhasil menjadi hamba Allah Swt.. Sarana kebahagiaan adalah semua sarana yang telah disediakan oleh-Nya dalam meniti jalan penghambaan diri kepada Allah Swt. Karena penghambaan diri inilah sebab diciptakannya manusia dan jin.

Allah berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. adz-Dzaariyaat: 56).

Orang yang berpaling dari penghambaan diri, dialah orang yang sengsara.

Allah berfirman:
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaahaa: 124).

Allah telah menentukan takdir semua makhluk dan tidak ada yang dapat mengubah takdir selain-Nya. Manusia yang berakal tentu akan bernaung kepada Dzat yang mampu menakdirkan segala sesuatu, ia akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam menyandarkan diri dan kepasrahan kepada-Nya.

Beban Amanah

Allah menciptakan manusia untuk sebuah tujuan yang mulia, yang akan memikul amanah yang sangat berat. Pantas saja tidak ada yang mau memikul amanah tersebut dari langit yang tinggi, gunung yang menjulang atau bumi yang terbentang, semuanya menyatakan enggan kecuali manusia. Allah menceritakan tentang perihal tersebut,

Allah berfirman:
“Sesungguhnya, telah kami sampaikan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” (QS. al-Ahzab: 72).

Apa gerangan amanah yang telah diikrarkan itu? Amanah itu adalah Islam dan peraturannya, yaitu janji kepatuhan kepada Allah .

Ahsanu ‘Amala

Al-Qur’an menyebutkan bahwa penciptaan alam, hidup dan mati untuk menguji manusia, siapa yang lebih baik amalnya. Itulah yang disebut dengan ahsanu ‘amala.

Allah berfirman:
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. al-Mulk: 2).

“Sesungguhnya, kami menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah yang terbaik perbuatannya.” (QS. al-Kahfi: 7).

Fudhail bin ‘Iyadh Ra. berkata, “Ahsanu ‘amala adalah amalan yang paling ikhlas dan yang paling benar.”

Jadi, penghambaan diri yang paling sempurna dengan 2 syarat, yaitu hendaklah ‘ubudiyah kepada Allah dengan penuh keikhlasan kepada-Nya dan sesuai dengan syariat.

2. Gerbang Hidayah

Fitrah Bekal Kebenaran

Setiap jiwa manusia diberi fitrah sebagai bekal untuk mencari kebenaran. Karena Allah tahu manusia itu lemah dan membutuhkan Khaliq. Fitrah itu adalah Islam, yaitu penyerahan diri kepada Dzat Yang Maha Kuasa, perasaan kerinduan terhadap kebenaran dan keinginan yang mendalam untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

Allah berfirman :
“(Berpegang teguhlah dengan) fitrah Allah yang telah dirakit manusia dengannya, tidak ada perubahan pada penciptaan Allah. Itulah agama yang lurus.” (QS. ar-Ruum: 30).

Muara Kebenaran

Semua aktivitas badan yang lahir, perbuatan baik dan buruk, dikuasai oleh satu komando, yaitu hati. Ia bagaikan raja yang berkuasa mutlak terhadap bala tentaranya, semua tindakan harus di bawah perintah dan larangannya, ia pergunakan sekehendaknya dan ia suruh semaunya.

Nabi bersabda:
“Ketahuilah, bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baik pula seluruh tubuh, jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, dia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hati yang bisa meraih hidayah Allah adalah hati yang masih dalam kategori hidup dan hati yang masih memiliki cahaya sekalipun redup.

Tunjuki Aku Jalan yang Lurus

Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat. Begitu pentingnya hidayah sehingga seorang hamba memohon minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam. Ketika hidayah jauh dari seorang, berarti kebinasaan dan kesengsaraan yang akan segera menimpanya. Hajat seorang hamba kepada hidayah seperti hajat badan terhadap udara, ia sangat membutuhkan sejumlah hidayah, napas yang keluar masuk tubuhnya. Sebagaimana tubuh membutuhkan makan dan minum, hati juga membutuhkan hidayah sebagai makanan dan minumannya.

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Kebutuhan seorang hamba pada hidayah, melebihi kebutuhannya dari makan dan minum. Kalau makan dan minum hanya dibutuhkan satu dua kali saja, sedangkan hidayah dibutuhkan sejumlah napas.” (Miftah Darus sa’adah, 1/61).

Jadilah Lentera

Orang yang merasakan manisnya hidayah dan lezatnya iman dialah orang yang punya motivasi dalam hidup dan bertabiat tidak pernah puas pada sesuatu, ia tidak puas kalau dirinya saja yang merengkuh kenikmatan dan merasakan kebahagiaan. Ia bagaikan lentera yang memberi penerangan buat dirinya sebagaimana ia menerangi yang lainnya.

Allah berfirman:
“Dan, apakah orang yang telah mati (hatinya) kemudian Kami hidupkan kembali dan Kami anugerahkan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaannya dalam gelap gulita yang sekali-kali ia tidak dapat keluar darinya.” (QS. al-An’aam: 122).

3. Menuju Cara Beragama yang Benar

Setelah seseorang diantarkan oleh Allah ke gerbang hidayah, yaitu Islam, yakni keinginan untuk mencari kebenaran melalui ilmu dan iman serta usaha dan amal, berarti ia telah mendapatkan setengah kebahagiaan. Akan tetapi, tidak cukup sampai di sana, ia menghendaki hidayah kedua dari Allah, yaitu taufiq Allah dalam kebenaran pada semua tindakannya.

Allah berfirman:
“Dan, orang yang berjuang di jalan kami akan kami beri kepada mereka hidayah jalan-jalan kami.” (QS. al-Ankabuut : 69).

Para ulama berkata, “Kami beri mereka taufiq untuk mendapatkan sarana yang benar menuju jalan yang lurus, jalan itu yang mengantarkan mereka kepada ridha Allah.” (Tafsir Baghawi, 404).

Untuk menggapai hidayah yang kedua ini, seorang muslim harus memiliki sifat :

Berjiwa Hanif

Orang yang berjiwa hanif yaitu orang yang condong kepada kebenaran, berkepribadian yang lurus dan istiqamah. Agama hanif yaitu agama yang jauh dari kesyirikan dan penyembahan berhala, dengan berkhitan, dan melakukan manasik haji. (Qamus Muhith, 2/370).

Allah berfirman;
“Tidaklah Ibrahim itu seorang Yahudi atau Nasrani. Akan tetapi, ia adalah seorang yang hanif lagi muslim, dan dia bukan dari orang musyrik.” (QS. Ali ‘Imran: 67).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Jauh dari syirik dan condong kepada iman.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/58).

Berserah Diri

Penyerahan diri dalam syariat adalah islam atau taslim, yaitu tunduk, patuh dan menyerahkan diri kepada Allah serta tidak ada perlawanan, penolakan, dan keraguan dalam melaksanakan perintah-Nya.

Memiliki Motivasi

Seorang yang memperoleh hidayah mempunyai kemauan yang kuat dan motivasi yang tinggi, karena yang dicarinya adalah surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Jika orang yang mencari dunia memerlukan semangat dan motivasi, maka selayaknya orang yang mencari akhirat akan memiliki semangat dan motivasi yang lebih besar untuk meraihnya.

Sabar dan Yakin

Sabar dan yakin sebagai syarat kebahagiaan hamba di dunia dan di akhirat, ketika dua hal ini telah diperoleh hamba, berarti ia telah menjadi insan kamil.

Syekh Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dengan sabar dan yakin akan diperoleh kepemimpinan dalam diri.”

Andi Muhammad

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: